Rabu, 24 November 2010

Kado Spesial Buat Dilla :)

Hello, dear!
Kenapa orang rela ngelakuin hal bodoh untuk orang yang disayanginya? Kenapa orang rela ngorbanin apapun yang dimiliknya buat orang yang disukainya? Kenapa orang mau nekat untuk bikin orang yang ditaksirnya tersenyum? Karena rasa sayang. Ya, semua itu untuk orang yang dicintainya. Karena ada suatu ikatan batin dan perasaan yang ingin ditunjukkan.

Dan semua pertanyaan tersebut sedang aku resapi. Engga habis pikir dengan apa yang aku lakuin kemaren, perjalanan Solo-Jogja-Solo nekat aku tempuh sekedar untuk melihat senyum manismu tersimpul di bibir. Memang engga seberapa, engga sejauh Surabaya-Solo, Jakarta-Solo, atau Sumatera-Solo. Tapi, semua itu terjadi begitu cepat dan sekilas hanya seperti mimpi. Yang aku tau, saat aku terbangun aku sudah berada di atas kasurku memeluk guling sembari sesekali sibuk mengusap air liur.




30 oktober ..
Pukul 16.13, pikiranku mulai kacau kembali memikirkanmmu. Tubuhku masih tergeletak di atas kasur busa, mataku masih sibuk terpejam, dan telingaku sibuk menikmati alunan musik berjeduk tak karuan, tapi otak pernah beristirahat terus sibuk berpikir dan sesekali mengulang memeori masa silam.

Jogja.. itulah yang sempat terpikirkan olehku, bukan tentang kabar heboh Merapi yang sedang asik memuntahkan isinya, bukan juga keinginanku untuk menjadi relawan. Aku pengen ke Barkas, membeli sebuah kado, membungkusnya rapi, dan kemudian aku pergi ke rumahmu memberikan ucapan terindah untuk akhir dari perayaan hari lahirmu. Ya, aku ingin menjadi orang yang terakhir kali mengucapkan “happy birthday” buat kamu, dan semoga aku juga bisa menjadi orang yang terakhir buat kamu 

Pukul 18.00, sudah mantap kuputuskan untuk nekat ngelakuin hal bodoh yang sama sekali tak pernah terbesit di pikiranku. iblis tengah menabur benih abu di jalanan dan air mata malaikat turut serta mengiringinya sementara Tuhan sibuk dengan kamera barunya. Perjalanan satu setengah jam kutempuh diiringi detakan jantung yang berdegup semakin cepat. Perasaan yang sudah lama sekali tak pernah kujamah lagi, keinginan untuk membuat seseorang senang meskipun harus mengorbankan apapun, ya apapun.

Kenapa engga daritadi siang aku ke Jogjanya? Kenapa engga kemaren-kemaren? Kenapa engga dari jauh-jauh hari aku nyiapin semuanya? Atau kenapa aku harus susah-susah ngelakuin semua hal bodoh ini? Bukankah lebih enak kalo aku tidur nyenyak mengistirahatkan bala badanku ini? Karena semua itu cuma buat kamu, KAMU, dan mungkin aku sudah suka dengan kamu.

Hujan abu sudah mulai mereda, hanya gerimis kecil yang mengiringi langkahku di jalanan Jogja. Tak lama-lama aku di sana,niatku hanya beli barang secuil ini, sebuah lampu yang bakal dia lihat sebelum tidur dan beharap dia selalu ingat aku sebelum matanya terpejam, kemudian pulang. Bosan bila aku harus mendengar suara bising ambulan yang kejar-kejaran mengantar para korban bencana.

Pukul 22.00, aku mampir ke sebuah kedai kopi dulu sebelum ke rumahmu. Mengistirahatkan badan barang seperempat atau setengah jam.

“Dilla, masih bangun?” Aku sms Dilla untuk memastikan apakah dia masih terjaga, aku berharap dia belum tidur, kalaupun sudah aku tak ada niat untuk membangunkannya.

Sepi..
diam lama sekali..

Tak kunjung ada balasan dari Dilla, sudah tidur mungkin. Lalu bagaimana dengan kado ini? Apa harus aku buang? Apa akan sia-sia semua yang sudah aku lakuin ini? Aku terdiam cukup lama bingung dengan apa yang harus aku lakukan.

Ohiya, apa aku titipin Rangga aja ya? Ah, tapi hati ini menolak. Aku ingin ngasihin langsung. Sendiri. Tanpa ada perantara, karena aku ingin melihat satu senyuman di bibirnya.

Kupacu motorku pelan-pelan sambil mengitari kota Solo di malam hari, ruteku sengaja kuperpanjang berharap ada balasan dari smsku. Tepat dipertigaan belokan ke rumah Dilla, ada sebuah sms masuk.

“masihh moyy..” dari Dilla. Tuhan memang adil, tidak disia-siakan usaha bodohku ini.

Jeda..

Sekitar seperempat jam aku menunggu di depan rumahnya.kuabaikan iringan lagu-lagu cinta tetangganya yang kupikir menyindirku. Selang beberapa menit dia pun keluar, mengenakan setelan daster. Tetap cantik, mungkin karena ada perasaan mau bagaimanapun tetap cantik, karena itu semua relatif.

Sayang aku bukan tipe orang yang suka basa-basi ataupun merangkai kata-kata indah. Untung Dilla orangnya sedikit bawel, makanya dia yang selalu membuka pembicaraan. Sebenarnya tak ingin kulewatkan momen seperti ini begitu saja, tapi malam semakin larut dan aku tak ingin membangunkan ayam tetangga.

Akupun berpamitan pulang, senyumnya masih tersimpul dari tadi. Sedikit ucapan perpisahan aku pun mulai menghilang di ujung jalan. Malam ini begitu indah.
Kenapa aku sudah mulai tidak terobsesi lagi seperti dulu, hanya keinginan memililki yang daridulu aku kejar. Mungkin ini yang namanya tulus. Mungkin aku juga rela kalo dia dengan orang lain. Sudah cukup senang kalo bisa melihatnya juga senang, karena aku tau kita itu berbeda, dan mungkin kita memang benar-benar berbeda.

Dan semua itu hanya Tuhan yang tau.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda